Skripsi : Wajib atau Opsi?

FEB Undip (16/6) – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis kembali menyelenggarakan diskusi publik yang dihadiri oleh perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan FEB, seperti KSEI, LPM Edents, Senat Mahasiswa, dan KESMES. Kali ini, diskusi publik dilaksanakan guna menanggapi wacana Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi yang tidak mewajibkan mahasiswa untuk membuat skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan. “Kan selama ini yang terdengar adalah skripsi itu akan dihapuskan. Itu tidak benar. Ini (dijelaskan) langsung dari Pak Nasir ke Pak Anis (Pembantu Dekan I) minggu lalu. Jadi skripsi ini dijadikan sebagai opsi bagi mahasiswa,” jelas Naufal meluruskan pandangan umum di awal acara.

Masing-masing perwakilan ormawa selanjutnya diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Galuh, perwakilan dari LPM Edents mengatakan bahwa dalam kebijakan ‘penghapusan’ skripsi memiliki dampak positif dan negatif. “Skripsi itu kan produk nyata mahasiswa terkait intelektualitasnya,” ujar Galuh. Lain lagi dengan Fajar sebagai perwakilan dari BEM yang berpendapat bahwa salah satu tujuan menjadikan skripsi sebagai sebuah opsi adalah untuk menurunkan tingkat plagiatisme karena pengawasan terkait dinilai masih kurang. Sementara Arya, perwakilan SEMA memberi contoh Universitas Brawijaya yang sudah menjadikan skripsi sebagai opsi kelulusan. “Jadi ini hanya khusus jurusan Manajemen. Jadi saat mereka sudah punya usaha dan laporan keuangannya dinilai baik oleh universitas, mereka dibebaskan dari pembuatan skripsi dengan cara mereka mengirimkan laporan keuangannya,” jelas Arya. Hal serupa juga dilakukan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung. Mahasiswa diwajibkan membuat sebuah bisnis sebagai syarat kelulusan. Menjadikan skripsi sebagai opsi syarat kelulusan juga telah diberlakukan oleh beberapa jurusan di Undip, semisal Teknik Elektro yang mewajibkan mahasiswanya untuk membuat robot sebagai salah satu syarat kelulusan.

Diskusi berakhir pukul 17.15 dengan pernyataan sikap dari masing-masing perwakilan Ormawa.   KSEI menyatakan perlu adanya skripsi karena mahasiswa harus memiliki sebuah karya. Lain halnya dengan KESMES yang menyatakan setuju dengan menjadikan skripsi sebagai opsi kelulusan. Sementara LPM Edents mengungkapkan bahwa harus ada peraturan, standar, dan timing yang tepat. Sedangkan SEMA sepakat dengan adanya opsi lain pengganti skripsi. Hal senada juga disampaikan oleh BEM yang setuju dengan opsi lain pengganti skripsi, dengan catatan adanya standar dan peraturan yang jelas.

Reporter : Akhmad Sadewa Suryohadi

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *