Talkshow Industri Keuangan Non Bank Syariah (INKB): Membuka Wawasan Baru Produk Keuangan Syariah

Semarang (21/3) – Memasuki hari kedua dalam rangkaian acara Training of Trainers (TOT) seputar Industri Keuangan Non-Bank Syariah (IKNB), Program Studi Ekonomi Islam FEB Undip bekerja yang bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (FORDEBI) Jawa Tengah mengadakan talkshow interaktif antara narasumber dan peserta. Acara berlangsung pada pukul 09.00 – 17.00 WIB dan bertempat di gedung Kewirausahaan kampus FEB Undip Tembalang.

Acara yang dihadiri oleh dosen-dosen dari beberapa universitas di Jawa Tengah ini juga turut dihadiri oleh mahasiswa, beberapa tamu undangan seperti dari rumah sakit di sekitar Jawa Tengah, dan masyarakat umum ini mengusung tema Meningkatkan Literasi di Kalangan Akademisi dan Masyarakat terhadap Produk Keuangan Syariah. Rita Cakti Yuliani selaku Deputi Direktur IKNB Syariah I OJK membuka acara dengan pemaparan singkat mengenai pertumbuhan literasi keuangan syariah yang hingga saat ini masih relatif rendah sehingga hal ini merupakan tanggung jawab bersama. “Market share per Januari 2018 saja menunjukkan bahwa pertumbuhan yang sudah dicapai hanya sebesar 4,96%,” jelas Rita.  Hal ini semakin diperkuat dengan paparan data yang menunjukkan bahwa pertumbuhan literasi keuangan syariah seperti perbankan syariah sebesar 0,63%, asuransi syariah 2,51%,  dana pensiun 0,00%, lembaga pembiayaan 0,19%, pegadaian 1,63%, dan pasar modal 0,02%.

Memasuki acara inti, materi pertama disampaikan oleh Yetty Rochyatini selaku representasi dari Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) yang memaparkan seputar tugas, peran, dan fungsi AASI. “Perlu teman-teman garus bawahi bahwa asuransi syariah memiliki dua regulator yaitu OJJK dan DSN (Dewan Syariah Nasional-red),” tutur Yetty. Adapun berdasarkan survey yang telah dilakukan, dari setiap 1.000 orang di Indonesia hanya 25 orang saja yang benar-benar paham mengenai asuransi syariah.

Yetty kemudian menyampaikan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong pertumbuhan literasi asuransi syariah seperti adanya sumber daya manusia yang berkualitas, produk yang ditawarkan memiliki manfaat, adanya publikasi dan kemudahan akses seperti via media sosial, sosialisasi yang luas, regulasi yang jelas, dan fatwa yang valid. “Selain beberapa faktor tadi, adanya peran ulama, tokoh masyarakat, dan akademisi dalam menyebarluaskan (mengedukasi) ke masyarakat luas juga dapat menjadi salah satu cara yang ampuh,” ungkap Yetty.

Memasuki materi kedua seputar dana pensiun, materi disampaikan oleh Sulityowati seputar Dana Pensiun Lembaga Keuangan Syariah. “Teman-teman perlu pahami, apa sih, kenapa sih kita harus menyiapkan dana pensiun,” tanya Lilis kepada peserta. Lilis menganalogikan dana pensiun seperti halnya menabung atau berinvestasi. Adapun yang membedakannya ialah pajak yang dikenakan jika ingin mencairkan dana pensiun hanya sebesar 5%, berbeda dengan pajak progresif pada tabungan atau investasi yang dapat menyentuh angka 20-25%. “Hingga saat ini, sudah terdapat 24 DPLK yang 6 diantaranya didirikan oleh perbankan dan 10 diantaranya berada pada unit syariah,” lanjut Lilis.

Setelah pemaparan dari materi kedua, materi ketiga dilanjut dengan membahas seputar konsep dan praktik di Pegadaian Syariah yang disampaikan oleh Mulyono. Gadai (rahn) merupakan kegiatan menahan harta dimana terdapat akad yang jelas apakah itu wakallah  atau hibah pada kurun waktu tertentu. Lebih lanjut, Mulyono menjelaskan bahwa rukun gadai terdiri atas sighat (ijab qabul), orang yang berakad, harta, dan utang. “Untuk ketentuan barang yang ingin di gadaikan juga ada syaratnya ya seperti barang tersebut merupakan harta benda, dapat diperjual-belikan, merupakan benda bergerak dan/ tidak bergerak, serta sesuai dengan porsi kepemilikannya,” jelas Mulyono.

Jenis layanan yang ditawarkan pegadaian hingga saat ini mencakup pembiayaan (mikro, gadai, dan syariah), pegadaian emas, dan aneka jasa lainnya. “Salah satu program unggulan Pegadaian Syariah ialah produk pegadaian AMANAH, ARRUM BPKB, dan pegadaian ARRUM haji,” jelas Mulyono. Lebih lanjut, pegadaian terus menjaga dan meningkatkan kualitas aset yang dimiliki seperti tercatat hingga saat ini pegadaian memiliki sembilan hotel yang salah satunya ialah Hotel Syariah Pesona yang bertempat di jalan Depok, Kota Semarang. Adapun hingga saat ini, tercatat jumlah nasabah tabungan emas Pegadaian Syariah sudah mencapai 1,2 juta nasabah.

 

Reporter: Cynthia Farah Sakina

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *