Terobosan Baru Sistem Pemungutan Suara Berbasis Android Karya Mahasiswa Undip

Universitas Diponegoro – Sistem E-KTP yang dianggap tidak memiliki fungsi signifikan dalam pelaksanaan sistem demokrasi di Indonesia, memicu pemikiran lima mahasiswa Undip yang terdiri dari Ian Amri Dinina (Teknik Elektro 2012), Fauzan Rozzaqo Kusuma (Teknik Elektro 2012), Rahayu Damayanti (Biologi 2012), Giga Verian Pratama (Fisika 2013), dan Dentatama Mulyawati (Kimia 2013) untuk menciptakan sarana pemungutan suara dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Berbekal dari berbagai bidang ilmu yang mereka miliki, Ian dkk. berhasil menggagas sistem pemungutan suara berbasis android yang dituangkan dalam bentuk PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) berjudul DIGION “Digital Democration” Sistem Pemungutan Suara Berbasis Android Terintegritas E-KTP Reader.

Penampakan dari aplikasi Digion

Aplikasi DIGION diciptakan karena banyaknya permasalahan dalam sistem pemilihan umum di Indonesia, seperti kecurangan (manipulasi kertas suara) dan pemborosan kertas suara. Disisi lain, mayoritas penduduk Indonesia telah memiliki E-KTP dan smartphone yang menjadikan peluang untuk menciptakan aplikasi berbasis android sehingga dapat digunakan saat pemilu berlangsung. DIGION diciptakan untuk menggantikan sistem pemilu di Indonesia yang masih konvensional dengan sebuah sistem baru yang jauh dari kecurangan dan lebih hemat. Selain itu, perhitungan hasil pemilu juga jauh lebih cepat, efisien, dan hemat, serta meminimalisir kecurangan karena menggunakan teknologi digital.

Menurut Rahayu, PKM yang dibuat oleh timnya membahas tentang aplikasi android untuk pemilu Lembaga Eksekutif di Indonesia. Aplikasi DIGION ini dianggap efektif dan efisien jika digunakan dalam pemilu. “Implementasinya cukup baik. DIGION ini sudah kami publish di berbagai media yang ada di Undip dan telah kami buat jurnal ilmiah terkait DIGION serta mengikutsertakan dalam College of ASEAN Community Studies di Thailand,” ujar Rahayu.

Program yang dirancang untuk memudahkan sistem Pemilu ini mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat, “Tentu ada kendala, tetapi berkat tim yang saling cooperative membuat kendala itu tidak ada artinya,” tutur Rahayu. Selain itu, ia juga berharap aplikasi yang telah diciptakan dapat dimplementasikan dalam pemilu di Indonesia 2020 mendatang saat memilih calon eksekutif.

Reporter : Anis Inayah

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *