Waktunya Semarang yang Merata

Bagi warga kota Semarang, atau paling tidak tinggal di semarang,tentu tidak asing dengan slogan “Waktunya Semarang Setara”.  Slogan ini banyak dijumpai di baliho-baliho, spanduk, maupun surat kabar.

“Waktunya Semarang Setara” merupakan  slogan Kota Semarang untuk membangun motivasi guna mengoptimalkan potensi  Kota Semarang melalui komitmen seluruh pemangku kepentingan (Pemerintah– masyarakat – swasta) untuk bersama membangun dan mensejajarkan dengan kota metropolitan lainnya serta mempermudah implementasi Visi dan Misi Kota Semarang 2010-2015. 

Memang, berdasarkan hasil survei KPPO, diantara 15 Kota metropolitan yang ada di Indonesia, Kota Semarang menduduki peringkat 13. Sedangkan dilihat dari sisi “Kota Pro Investasi” pada  tahun 2006 Kota Semarang menduduki rangking jauh diluar 10 besar, kemudian tahun 2007 menduduki posisi ke-9, dan pada tahun 2008 yang lalu menyandang harapan sedangkan tahun 2009 turun menjadi urutan ke 13.
Sumber: Internet

Melihat kenyataan tersebut, jelas sudah sepantasnya pemerintah mempunyai keinginan untuk mendudukkan Semarang dalam posisi yang sejajar/setara dengan kota metropolitan lainnya.

Akan tetapi, ada baiknya pemerintah merenungi kembali makna dari slogan tersebut.  Di saat pemerintah memiliki ambisi untuk berdiri sama rata dengan kota metropolitan yang lain, sudahkah pembangunan yang dilakukan di Semarang menyentuh seluruh daerah-daerah yang ada di Semarang secara merata?
Miris membacanya ketika beberapa warga semarang mengeluhkan kurang meratanya pembangunan infrastruktur yang ada di Semarang.“Piye Jal” Suara Merdeka30 April 2011. Warga dengan nomor telepon seluler 08529274xxxx menyampaikan, “Jalan Pemuda masih mulus diaspal lagi, mbok ya jalan raya Gunungpati diperbaiki, sudah tak layak disebut jalan raya”.
Warga lain, mengungkapkan ”Bali ndeso mbangun ndeso, jalan raya Gunungpati rusak parah, tepatnya dekat Gua Kreo, kapan diperbaiki? (08587634xxxx).  Jalan Gunungpati sebenarnya hanya salah satu dari beberapa daerah yang kondisinya juga memprihatinkan, seperti jalan Bangetayu hingga Muktiharjo Raya dan Kecamatan Genuk.
Dilihat dari anggaran yang ada pada Dinas Bina Marga, penataan jalan untuk pusat kota ternyata sangat besar, yakni mencapai 70% atau Rp 78,3 miliar. Sedangkan penataan jalan untuk daerah pinggiran hanya memperoleh sisanya, yakni 30% (Suara Merdeka,29 April 2011).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pembangunan BELUM merata ke seluruh wilayah yang ada di Semarang. Bahkan pada anggaran penataan jalan saja terdapat ketimpangan yang sangat mencolok. Hal ini tentu dapat menimbulkan laju pembangunan yang tidak seimbang antara daerah satu dengan lainnya.

Oleh karena itu, perlu bagi pemerintah untuk mengasah kepekaan telinga dalam mendengar suara rakyat.  Istilah “suara rakyat adalah suara Tuhan”agaknya perlu jadi pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pembangunan di Semarang.

Selain itu, belum terlambat bagi pemerintah untuk mengkoreksi slogan “Waktunya Semarang Setara” menjadi “Waktunya Semarang Merata”.  Kurang komersial mungkin, tetapi slogan ini dapat dimaknai sebagai motivasi guna mengoptimalkan potensi kota Semarang melalui komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk bersamamewujudkan pembangunan yang merata antara daerah satu dengan yang lain di kota Semarang.

Jadi, fokus pembangunan bukan dalam rangka mensejajarkan kota Semarang dengan kota metropolitan lainnya, tetapi harus lebih memprioritaskan pembangunan dalam rangka mensejajarkan daerah pinggiran dengan pusat kota.  Sehingga, kebijakan ini nantinya akan lebih bermanfaat bagi masyarakat, karena lebih menyentuh kepada permasalahan riil yang dialami. Waktunya Semarang Merata! (f)


Aktsar Hamdi Tsalits
Pemimpin Umum LPM Edents 2010/2011

Artikel ini juga dimuat dalam Majalah Edents Vol. 16
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *